top of page

Anak-anak Tuli Berhak Mendapatkan Pendidikan yang Lebih Baik: Pelajaran dari 35 Tahun Pendidikan Bilingual bagi Tuli

  • 6 hari yang lalu
  • 3 menit membaca
Foto bersama para hadirin seminar
Foto bersama para hadirin

Jakarta, 14 Juni 2026 – Gagasan tentang pentingnya pendidikan yang inklusif dan berkualitas bagi anak Tuli menjadi fokus utama dalam seminar bertajuk "Anak-anak Tuli Berhak Mendapatkan Pendidikan yang Lebih Baik: Pelajaran dari 35 Tahun Pendidikan Bilingual bagi Tuli" (Deaf Children Deserve Better: Lessons Learned from 35 Years of Deaf Bilingual Education) yang diselenggarakan pada Minggu (14/6) di Grab Excellence Center, Jakarta.

Seminar ini menghadirkan dua narasumber berpengalaman di bidang pendidikan Tuli, yaitu Prof. Emeritus Thomas K. Holcomb, Ph.D., profesor emeritus dari Ohlone College sekaligus Juru Bahasa Isyarat Tuli bersertifikat, serta Prof. Michele G. Berk, Kepala Sekolah California School for the Deaf, Fremont. Keduanya telah berkontribusi selama puluhan tahun dalam pengembangan pendidikan bilingual bagi anak Tuli.

Kegiatan ini turut dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan, di antaranya Ketua DPP Gerkatin Wilma Redjeki, Ketua Yayasan Pusbisindo Kesumo Yoga Prawira, Direktur Pusat Layanan Juru Bahasa Isyarat (PLJ) Juniati Effendi, perwakilan Pijar Foundation Anthony, serta peserta yang berasal dari komunitas Tuli, pendidik, orang tua anak Tuli, dan pemerhati pendidikan.

Dalam pemaparannya, Prof. Thomas Holcomb menyampaikan harapannya agar semakin banyak orang tua anak Tuli, guru SLB, serta masyarakat Tuli dapat mengikuti seminar serupa. Menurutnya, meningkatnya pemahaman mengenai pendidikan Tuli merupakan langkah penting untuk mewujudkan sistem pendidikan yang lebih baik bagi anak-anak Tuli.

Berbekal pengalaman lebih dari 35 tahun dalam penelitian dan praktik pendidikan bilingual, Prof. Thomas menegaskan bahwa setiap anak Tuli memiliki hak untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas dan akses bahasa yang optimal sejak usia dini. Pendidikan yang tepat tidak hanya mendukung perkembangan akademik, tetapi juga berperan besar dalam pembentukan identitas, kemampuan sosial, dan kemandirian anak Tuli.

Sementara itu, Prof. Michele G. Berk memaparkan bagaimana pendekatan pendidikan bilingual yang diterapkan di California School for the Deaf, Fremont memberikan dampak positif terhadap perkembangan motorik, bahasa, dan kemampuan intelektual anak-anak Tuli. Melalui akses yang kuat terhadap bahasa isyarat sejak dini, anak-anak dapat membangun fondasi komunikasi yang lebih baik sehingga proses belajar berlangsung secara lebih optimal.

Salah satu hal yang menarik dalam seminar ini adalah kisah perjalanan Prof. Thomas Holcomb dan Prof. Michele Berk sebagai pasangan suami istri. Thomas merupakan profesor Tuli, sedangkan Michele adalah seorang dengar (hearing). Bersama-sama mereka telah mendedikasikan kehidupan dan karirnya untuk mengembangkan pendidikan bilingual yang berpihak pada kebutuhan anak-anak Tuli. Kolaborasi keduanya menjadi bukti bahwa kolaborasi antara Tuli dan dengar  dapat menghasilkan perubahan yang berdampak luas bagi dunia pendidikan.

Suasana seminar pemaparan topik "Pendidikan yang Lebih Baik bagi Anak Tuli"
Suasana seminar pemaparan topik "Pendidikan yang Lebih Baik bagi Anak Tuli"

Dalam sesi materi juga dipaparkan hasil penelitian mengenai perkembangan anak Tuli dan anak dengar dalam memahami cerita melalui media. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa anak dengar cenderung lebih mudah menyerap informasi melalui video yang memanfaatkan unsur musik. Sebaliknya, anak Tuli mengalami perkembangan bahasa dan pemahaman yang lebih baik ketika informasi disampaikan melalui bahasa isyarat, ekspresi wajah, serta bahasa tubuh. Penyampaian cerita yang dapat diakses secara visual terbukti membantu anak Tuli mengembangkan kemampuan berkomunikasi, memahami informasi, dan bersosialisasi secara lebih efektif.

Prof. Thomas turut menegaskan bahwa pendidikan anak Tuli tidak hanya berbicara mengenai proses belajar di sekolah, tetapi juga berkaitan erat dengan budaya Tuli. Ia menjelaskan bahwa terdapat lima nilai penting dalam budaya Tuli yang perlu dipahami dan dihormati, yaitu:

  • Akses penuh terhadap komunikasi;

  • Berbagi komunikasi

  • Disosiasi dari kemampuan berbicara

  • Pembentukan identitas Tuli yang sehat; dan

  • Penentuan diri sendiri.

Menurut Prof. Thomas, tantangan dalam pendidikan anak Tuli bukan hanya terjadi di Amerika Serikat, melainkan juga di berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia. Oleh karena itu, kemajuan pendidikan Tuli hanya dapat dicapai melalui advokasi yang berkelanjutan, riset yang terus berkembang, pendampingan selama proses pendidikan, serta dukungan nyata dari pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan.

Penyerahan piagam tanda terima kasih kepada Prof. Emeritus Thomas K. Holcomb dan Prof. Michele G. Berk
Penyerahan piagam tanda terima kasih kepada Prof. Emeritus Thomas K. Holcomb dan Prof. Michele G. Berk

Di akhir seminar diisi dengan sesi tanya jawab yang berlangsung interaktif, dilanjutkan dengan penyerahan piagam apresiasi diserahkan kepada Prof. Thomas dan Prof. Michelle kemudian dan foto bersama seluruh narasumber dan peserta. Besar harapan agar berbagai pengetahuan dan pengalaman yang dibagikan dalam seminar ini dapat meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya akses bahasa sejak dini serta mendorong terwujudnya sistem pendidikan yang lebih baik, inklusif, dan berpihak pada kebutuhan anak-anak Tuli di Indonesia.


Penulis & Editor: Stefanus Sinar Firdaus

Dokumentasi: Kevin Leonardo A.

Komentar


bottom of page